Minggu, 15 April 2012

makalah pancasila


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
           Siapa yang tidak kenal dengan Pancasila dan Soekarno sebagai penggalinya? Pada tanggal 1 Juni 1945 untuk pertama kalinya Bung Karno mengucapkan pidatonya di depan sidang rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan.
           Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk. Mengapa begitu besar pengaruh Pancasila terhadap bangsa dan negara Indonesia? Kondisi ini dapat terjadi karena perjalanan sejarah dan kompleksitas keberadaan bangsa Indonesia seperti keragaman suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta warna kulit jauh berbeda satu sama lain tetapi mutlak harus dipersatukan.
          Sejarah Pancasila adalah bagian dari sejarah inti negara Indonesia. Sehingga tidak heran bagi sebagian rakyat Indonesia, Pancasila dianggap sebagai sesuatu yang sakral yang harus kita hafalkan dan mematuhi apa yang diatur di dalamnya. Ada pula sebagian pihak yang sudah hampir tidak mempedulikan lagi semua aturan-aturan yang dimiliki oleh Pancasila. Namun, di lain pihak muncul orang-orang yang tidak sepihak atau menolak akan adanya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.
          Mungkin kita masih ingat dengan kasus kudeta Partai Komunis Indonesia yang menginginkan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Komunis. Juga kasus kudeta DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan mendirikan sebuah negara Islam. Atau kasus yang masih hangat di telinga kita masalah pemberontakan tentara GAM.
          Jika kita melihat semua kejadian di atas, kejadian-kejadian itu bersumber pada perbedaan dan ketidakcocokan ideologi Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia dengan ideologi yang mereka anut. Dengan kata lain mereka yang melakukan kudeta atas dasar keyakinan akan prinsip yang mereka anut adalah yang paling baik, khususnya bagi orang-orang yang berlatar belakang prinsip agama.
          Berdasarkan Latar Belakang permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk menulis makalah yang berjudul “PANCASILA VS AGAMA”.
          Masalah pokok yang hendak dikemukakan di sini adalah kenyataan bahwa Pancasila tidak merupakan paham yang lengkap, juga tidak merupakan kesatuan yang bulat. Kelengkapannya bergantung pada pemikiran lain yang dijabarkan ke dalam Pancasila; dan kesatuan bulatnya juga demikian. Dalam rangka ini, paham agama bisa pula masuk.
B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Apakah Pancasila masih cocok menjadi ideologi yang dianut oleh bangsa Indonesia yang terdapat beragam kepercayaan (agama).
2. Apakah dengan terus menjadikan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, dapat menuju negara yang aman dan stabil.
C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan Makalah
1. Tujuan Penulisan Makalah
a. Untuk mengetahui sejauh mana Pancasila cocok dengan agama.
b. Untuk mengetahui arti penting dari adanya Pancasila di negara Indonesia.
c. Untuk mengetahui bagaimana seharusnya negara yang memiliki masyarakat yang beragam agama.
2. Kegunaan Penulisan Makalah
a. Bagi Penulis
Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas terstruktur dari mata kuliah Pancasila.
b. Bagi pihak lain
Makalah ini diharapkan dapat menambah referensi pustaka yang berhubungan antara Pancasila dengan Agama.
D. Pembatasan Masalah
1. Penulisan makalah ini dibatasi pemasalahannya yaitu hanya membahas sangkut paut agama dengan Pancasila.
2. Agama yang menjadi objek utama dalam penulisan makalah ini adalah Agama yang ada di Indonesia (Islam, dll).
BAB II
METODE PENULISAN
A. OBJEK PENULISAN
           Objek penulisan makalah ini adalah mengenai Pancasila dan hubungannya dengan gama-agama yang ada di Indonesia. Dalam makalah ini juga dibahas mengenai kontroversi penerapan ideologi pancasila di Indonesia.
B. DASAR PEMILIHAN OBJEK
           Kami sebagai penyusun makalah ini, memilih objek Pancasila dengan Agama karena kedua hal ini adalah dua komponen negara Indonesia yang masing-masing mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi para penganutnya. Jika terjadi ketidakserasian antara dua komponen ini, maka akan terjadi suatu yang sulit untuk diselesaikan.
C. METODE PENGUMPULAN DATA
           Dalam pembuatan makalah ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah kaji pustaka terhadap bahan-bahan kepustakaan yang sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam makalah ini yaitu mengenai hubungan Pancasila dengan agama. Disamping itu, penulis juga mendapatkan data dari hasil wawancara dengan orang-orang yang berkompeten di bidang pancasila dan agama. Sebagai referensi juga diperoleh dari situs web internet yang membahas mengenai falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia.
D. METODE ANALISIS
          Penyusunan makalah ini berdasarkan metode deskriptif analistis, yaitu mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fakta dan data yanag ada, menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya, serta mencari alternatif pemecahan masalah
BAB III
KETUHANAN YANG MAHA ESA
A. Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa
          Sila pertama Pancasila sebagai dasar falsafah negara adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Oleh karena sebagai dasar negara maka sila tersebut merupakan sumber nilai, dan sumber norma dalam setiap aspek penyelenggaraan negara, baik yang bersifat material maupun spiritual.
B. Ketuhanan Yang Maha Esa Sebagai Asas Universil
          Ketuhanan Yang Maha Esa suatu asas yang mengandung kebenaran universil, artinya diakui oleh umat manusia dari zaman purbakala sampai kepada zaman modern dewasa ini, walaupun bentuk dan isinya tidak sama, dan pada setiap zaman itu terdapat pula sementara orang yang tidak memperhatikan atau mengabaikan dan tidak mengakui atau mengingkarinya.
C.  Pengertian sila 1(ketuhanan yang Maha Esa          
          
Pancasila sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa berarti bahwa negara mengakui adanya Tuhan. Tuhan merupakan pencipta seluruh alam semesta ini. Yang Maha Esa berarti Maha Tunggal, tiada sekutu bagiNya, Esa dalam zatNya, dalam sifatNya maupun dalam perbuatanNya. Tuhan sendirilah yang maha mengetahui, dan tiada yang sanggup menandingi keagunganNya. Tidak ada yang bisa mengaturNya karena Tuhan mengatur segala aturan. Tuhan tidak diciptakan oleh makhluk lain melainkan Tuhan yang Menciptakan segalanya. Bahagia, tertawa, sedih, tangis, duka dan gembira juga Tuhan yang menentukan.
            Dengan demikian Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung makna adanya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Tunggal, yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Dan diantara makhluk ciptakan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini ialah manusia. Sebagai Maha Pencipta, kekuasaan Tuhan tidaklah terbatas, sedangkan selainNya adalah terbatas.
          Negara Indonesia didirikan atas landasan moral luhur, yaitu berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa yang sebagai konsekuensinya, maka negara menjamin kepada warga negara dan penduduknya untuk memeluk dan untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, seperti pengertiannya terkandung dalam:

A. Pembukaan UUD 1945 aline ketiga, yang antara lain berbunyi:
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa …. “
           Dari bunyi kalimat ini membuktikan bahwa negara Indonesia tidak menganut paham maupun mengandung sifat sebagai negara       sekuler.
Sekaligus menunjukkan bahwa negara Indonesia bukan merupakan negara agama, yaitu negara yang didirikan atas landasan agama     tertentu, melainkan sebagai negara yang didirikan atas landasan Pancasila atau negara Pancasila.

B. Pasal 29 UUD 1945
Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa
            Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya.
            Oleh karena itu di dalam negara Indonesia tidak boleh ada pertentangan dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa, dan sikap atau perbuatan yang anti terhadap Tuhan Yang Maha Esa, anti agama. Sedangkan sebaliknya dengan paham Ketuhanan Yang Maha Esa ini hendaknya dipahami dalam – dalam, diwujudkan dan dihidupsuburkan kerukunan hidup beragama, kehidupan yang penuh toleransi dalam batas-batas yang diizinkan oleh atau menurut tuntunan agama masing-masing individu, agar terwujud ketentraman, kesetabilan dan kesejukan di dalam kehidupan beragama.
Untuk senantiasa memelihra dan mewujudkan 3 model kerukunan hidup yang meliputi :
·         Kerukunan hidup antar umat seagama
·         Kerukunan hidup antar umat beragama
·         Kerukunan hidup antar umat beragama dan Pemerintah.

            Tri kerukunan hidup tersebut merupakan salah satu faktor perekat kesatuan bangsa. Di dalam memahami sila I Ketuhanan Yang Maha Esa, hendaknya para pemuka agama senantiasa berperan di depan dalam menganjurkan kepada pemeluk agama masing-masing untuk menaati norma-norma kehidupan beragama yang dianutnya, misalnya : bagi yang beragama Islam senantiasa berpegang teguh pada kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bagi yang beragama Kristen (Katolik maupun Protestan) berpegang teguh pada kitab sucinya yang disebut Injil, bagi yang beragama Budha berpegang teguh pada kitab suci Tripitaka, bagi yang beragama Hindu pada kitab sucinya yang disebut wedha.
             Falsafah Negara Pancasila, Sila Pertama Disebut Ketuhanan yang Maha Esa; Masalah ke-Tuhanan merupakan suatu hal yang pokok/dasar dalam setiap agama, sehingga suatu agama yang tidak ada/tidak Jelas Tuhannya maka bukanlah agama. Semua agama mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa (tunggal) yang dalam istilah agama disebut Tauhid; artinga meng-Esakan Tuhan yaitu Allah SWT;. Namun demikian bahwa KeTuhanan Yang Maha Esa tersebut mempunyai penafsiran yang berbeda di antara satu agama dengan agama lainnya, baik itu dalam islam, Kristen, Hindu maupun Budha. Perbedaan-perbedaan tersebut harus diterangkan, agar supaya berdasarkan pengertian tentang adanya perbedaan itu akan timbul saling pengertian dan hargamengharagi antara satu sama lain, sehingga tidak menimbulkan pertengkaran/perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat.
             Sehubungan hal tersebut, dalam makalah inidiuraikan pula beberapa pandangan agama selain islam tentang Ke-Esaan Tuhan. Hal ini dimaksudkan hanya untuk memperjelas. Islam menekankan dengan sungguh-sungguh tentang ke-Esaan Tuhan. Tuhan itu adalah benar-benar Esa/Tunggal;, Esa murni dalam arti Tuhan yang tidak dapat dipisahpisahkan lagi atau bukan merupakan kumpulan (kesatuan) dari satuan-satuan lain.Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an antara lain: Surat Al-Ikhlas, ayat 1-4, yang artinya ; Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa;Allah adalah Tuhan, yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu ; Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan; dan tidak seorangpun yang setara dengan dia;. Surat-Ash-Shad, ayat 65, yang artinya: . . . Dan sekali-sekali tidak ada Tuhan, selain Allah Yang Maha Esa dan Maha mengalahkan;. Surat Al-Baqarah ayat 163, yang rtinya: Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang;. Dunia dimana kita ni hidup menunjukkan berbagai macam keragaman. Penciptaan adalah banyak, tetapi Sang Pencipta adalah Satu. Selain daripada kepercayaan agama, kita dapat mencapai kesimpulan tentang ke-Esaaan hakikat eksistensi dengan jalan logika atau dengan pengalaman duniawi atau dengan pengalaman kejiwaan kita sendiri. Adlah suatu hukum daripada science, bahwa kita ini hidup dalam alam yang penuh dengan berbagai macam ragam gejala, tetapi satu sama lain saling berhubungan.
D. Pengertian Ketuhanan Yang Maha esa dalam Pendidikan Islam
          Falsafah Negara Pancasila, Sila Pertama Disebut Ketuhanan yang Maha Esa; Masalah ke-Tuhanan merupakan suatu hal yang pokok/dasar dalam setiap agama, sehingga suatu agama yang tidak ada/tidak Jelas Tuhannya maka bukanlah agama. Semua agama mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa (tunggal) yang dalam istilah agama disebut Tauhid; artinga meng-Esakan Tuhan yaitu Allah SWT;. Namun demikian bahwa KeTuhanan Yang Maha Esa tersebut mempunyai penafsiran yang berbeda di antara satu agama dengan agama lainnya, baik itu dalam islam, Kristen, Hindu maupun Budha. Perbedaan-perbedaan tersebut harus diterangkan, agar supaya berdasarkan pengertian tentang adanya perbedaan itu akan timbul saling pengertian dan hargamengharagi antara satu sama lain, sehingga tidak menimbulkan pertengkaran/perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat.
           Sehubungan hal tersebut, dalam makalah inidiuraikan pula beberapa pandangan agama selain islam tentang Ke-Esaan Tuhan. Hal ini dimaksudkan hanya untuk memperjelas. Islam menekankan dengan sungguh-sungguh tentang ke-Esaan Tuhan. Tuhan itu adalah benar-benar Esa/Tunggal;, Esa murni dalam arti Tuhan yang tidak dapat dipisahpisahkan lagi atau bukan merupakan kumpulan (kesatuan) dari satuan-satuan lain.Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an antara lain: Surat Al-Ikhlas, ayat 1-4, yang artinya ; Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa;Allah adalah Tuhan, yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu ; Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan; dan tidak seorangpun yang setara dengan dia;. Surat-Ash-Shad, ayat 65, yang artinya: . . . Dan sekali-sekali tidak ada Tuhan, selain Allah Yang Maha Esa dan Maha mengalahkan;. Surat Al-Baqarah ayat 163, yang rtinya: Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang;. Dunia dimana kita ni hidup menunjukkan berbagai macam keragaman.
            Dalam hal ini Al-Qur’an mengajukan argumentasi yang sangat sederhana: andaikata ada pada langit dan bumi Tuhan selain Allah niscaya rusak binasalah kedua-duanya itu (Al-Anbiya, 22). Andaikata ada Tuhan selain Allah, niscaya tata semesta ala mini tidak ada yang stabil, dan tidak ada hukum alami dapat berjalan. Demikian juga dalam science, alam ini adalah satu, dan berbagai macam ragaman ini diikat dengan berbagai kesatuan hukum dan semua kesatuan hukum itu akhirnya dari kesatuan hukum yang meliputi seluruhnya. Dalam science, penglaman-pengalaman membenarkan hipotesa ini, tetapi science hanya menggarap penonema indrawi saja. Agama menekankan bahwa dunia yang dipahami dengan pengertian juga merupakan satu kesatuan, sekalipun dunia pengertian; itu tidak berhadapan dengan kita sebagai suatu fakta yang indrawi.
           Plato menerangkan dengan jalan akal yang logis untuk menyusun sebuah piramida daripada idea. Berbagai macam ragaman daripada dunia lahiri ini adalah merupakan dasar daripada piramida itu; di atas dasar itu terdapatlah berbagai macam idea; dan berbagai macam idea makin berkurang apabila kita meningkat lebih atas lagi hingga kita sampai kepada puncak piramida dimana hanya ada satu idea, idea daripada seantero idea yang plato katakana kebaikan; dan dari kebaikan inilah semua idea bersumber dan dengan perantaraannya dunia ini menjadi ada. Filsafat mencapai kesimpulan tentang keharusan adanya kesatuan akal. Ahli fisika mengidentikkan totalitas daripada eksistensi ini dengan dunia indrawi dan ia menganggap tidak benar melampaui hal itu. Ahli filsafat platonis mengidentikkan realitas dengan akal dan ia menganggap suatu kemustahilan untuk melampaui dibalik akal, sebab sampai disitu akal telah sampai kepada klimaksnya. Akal harus berhenti sampai kesitu.
            Dalam perjalanan sejarah, manusia seringkali mulai dengan kepercayaan tentang banyak Tuhan, yang Tuhan satu sama lain tidak ada hubungannya sama sekali, atau bahkan Tuhan yang satu bermusuhan dengan Tuhan yang lainnya, tetapi akhirnya mereka sampai kepada idea tentang Esanya Tuhan. Demikian juga penemuan-penemuan alami dimulai dengan penemuan-penemuan kebanyakragaman dari alam semesta ini, hingga akhirnyasamapi kepada satu idea tentang kesatuan alam semesta ini. Dimana mereka menemukan bahwa berbagai macam penomena alami yang paling jauh diketahui tunduk kepada satu hukum yang sama dan saling berhubungan kausal satu sama lain. Di samping akal dan dunia, Tuhan juga terasa dalam kesadaran moral manusia. Immanuel Kant menyatakan bahwa hal yang menakutkan dia; langit yang bertaburan bintang-bintang di atas dan hukum moral yang ada di dalam dirinya sendiri.
            Dalam kedua dunia ini; dunia atas dan dunia dalam ia berusaha untuk menemukan kesatuan dan uniformnya hukum yang menguasainya. Rupa-rupanya ia mendapatkan kesukaran untuk menyatukan dua kesatuan itu dalam satu kesatuan yang fundamental, darimana kedua-duanya itu bersumber. Ia meninggalkan hal itu dalam bidang kepercayaan, dengan memegang teguh thesisnya bahwa agama baru mulai dimana filsafat berhenti. B. Agama Islam adalah Monotheisme Menurut Islam, Tuhan yang benar adalah monotheistic dan semua nabi-nabi mengajarkan monotheis.
           Dalam deretan perkembangan agama daripada anak cucu Israil, Al-Qur’an dengan khusus menyebutnya nabi Ibrahim AS yang mengajarkan monotheisme dalam bentuk yang amat tegas lagi jelas dan Nabi Muhammad SAW sendiri menyatakan berulang kali bahwa iamengambil jalan yang benar sebagaimana jalan yang dilalui oleh Nabi Ibrahim AS yang menolak penyembahan berhala dan menolak anggapan berbagai macam gejala alam sebagai Tuhan. Sebagaimana firman Allah SWT menyatakan: Lantaran itu, turutlah agama Ibrahim yang lurus; dan bukanlah ia seorang daripada kaum musyrik;. (Al-Imran: 95). kemudian kami wahyukan kepadamu hendaklah engkau turut agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah ia daripada golongan musyrik;. (An-Nahl: 123). Di dalam agama Hindu, kita juga melihat perkembangan yang lama dan berangsur-angsur dari polytheisme dan penyembahan gejala alam kepada monotheisme dan monisme spiritual. Demikian juga agama Kristen. Yesus atau Isa Bin Maryam, adalah seorang monitheis dan banyak juga dari orang-orang Kristen yang tetap monotheis. Tetapi ajaran trinitas mengaburkan monotheisme agama Kristen dengan memasukan ajaran inkarnasi dan ajaran adanya tiga oknum yang co-eternal dan sejajar, yang semuanya itu adalah satu, tetapi dalam waktu yang sama adalah juga tiga. Ajaran ini karena tidak bisa dipahami oleh agama Kristen dikatakan Mystery; (ajaran yang rahasia). Inilah sebabnya, maka Professor Willfred Cantwell Smith, seorang Guru Besar Perbandingan Agama di McGill University Canada menyatakan bahwa orang-orang Kristen membuat kesalahan fundamental lagi sangat keji, ialah mereka menyembah utusan Tuhan (Jesus) dengan mengabaikan ajaran-ajarannya.
           Ini pulalah sebabnya maka professor H.A.R Gibb seorang ahli ilmu pengetahuan Islam terkenal dari Oxford University menyatakan bahwa methapor-methapor dimana ajaran Kristen diungkapkan mwmuaskan dia secara akal sebagai pelahiran simbolis tentang kebenaran rohani yang paling tinggi asal methapor-methapor itu tidak diinterprestasikan dalam pengertian-pengertian dogma yang anthropomorphis, tetapi sebagai pengertian umum dengan mengingat pandangan orang-orang Kristen yang berubah-ubah tentang kodrat alam semesta. Islam menganggap tidak ada gunanya dan bahkan salah kepercayaan Trinitas itu dan Al-Quran antara lain menyatakan: Sesungguhnya telah kafir-lah orang-orang yang berkata bahwa Allah itu ialah masih anak Maryam;. ( Al-Maidah: 72). Sesungguhnya telah kafir-lah orang-orang yang berkata, bahwa Allah adalah yang ketiga daripada tiga, padahal tidak ada Tuhan melainkan Tuhan Yang Maha Esa;. (Al-Maidah: 73).
           Agama Zoroaster pada azasnya adalah juga monotheis, sekalipun monotheismenya itu dalam beberapa hal dikaburkan oleh kepercayaan yang henotheistis tentang adanya dua prinsip yang relative berpisah dan bermusuhan satu sama lainnya, ialah terang dan gelap atau ahura dan ahriman yang satu sama lain selalu berlawanan. Soal Buddhisme adalah berbeda sedikit. Pada umunya para sarjana agama menganggap bahwa Buddhisme iru merupakan agama yang tidak bertuhan. Buddha mengajarkan tentang peningkatan kerohanian manusia yang dapat dicapai dengan memahami dan mengikuti hukum-hukum moral yang menurut di adalah kasih sayang dan penolakan keinginan-keinginan yang sifatnya pribadi dan jasmani. Ia menolak ajaran
Trimurti Hindu, tetapi ia tidak mengajarkan dan tidak menolak ajaran tentang keesaan Tuhan.

         Kita tidak dapat berkata bahwa usaha pemurnian dan penjernihan ajarn-ajaran Buddha telah mendapat hasil yang banyak dewasa ini, tetapi kalau dalam agama Hindu maka dengan mempelajari pikiran-pikiran pembaharuan-pembaharu agama Hindu sejak daripada Ram Mohan Roy sampai kepada Gandhi orang dapat memperoleh pengertian bahwa Hinduisme baru itu adalah makin hari makin monotheistis. Swami Rama Tiratha, Swami Vivekanada, Swami Dajananda, Ramakrishna
           Parmahansa dan lain-lain pembaharu modal dan agama Hindu adalah dalam beberapa hal monotheis sebgaian dari mereka dengan menekankan kepada Tuhan yang lebih pribadi dan yang lainnya kepada Tuhan yang lebih tidak pribadi, dengan cara pendekatan dari segi fiksafat atau mistik. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengaku agama yang paling oertama yang mengajarkan monotheisme atau ke-Esaan Tuhan. Sebaliknya islam menekankan bahwa kepercayaan tentang ke-esaan Tuhan itu adalah sama tuanya dengan lahirnya manusia dan itulah kebenaran agama. Islam mengajarkan bahwa semua nabi-nabi mengajarkan kebenaran yang fundamentil itu dan semua kitab-kitab suci agama mengajarkan tentang ajaran monotheisme itu. Tetapi kepercayaan itu dari waktu ke waktu oleh tangan manusia, dan nabi demi nabi diutus oleh Allah kepada berbagai macam bangsa dan kelompok umat manusia untuk mengembalikan kebenaran yang asasi itu. Oleh karena itu kesatuan asasi daripada seluruh agama adalah merupakan salah satu ajaran islam. Ajaran agama-agama besar satu sama lain berbeda dalam cara-cara peribadatannya dan hukum-hukumnya, karena bedanya lingkungan, waktu dan tempat, tetapi kepercayaan tentang keesaan Tuhan adalah sama pada seluruh agama. Menurut Al-Qur’an kepercayaan tentang ke-esaan Tuhan itu dan usaha untuk menyempurnakan kebaktian Tuhan itulah merupakan pokok daripada semua agama yang benar.
            Dari kepercayaantentang ke-Esaan Tuhan berakibat bukan hanya kesatuan eksistensi saja, tetapi juga kesatuan umat manusia seanteronya. Di atas telah diterangkan, bahwa kesatuan yang esensil daripada semua agama adalah merupakan ajaran pokok daripada islam,. Itu adalah akibat daripada ke-Esaan Tuhan. Islam mengajarkan bahwa sebagai akibat ajaran tentang ke-Esaan Tuhan, ialah kesatuan seantero umat manusia. Al-Qur’an berulangkali menekankan bahwa umat manusia seluruhnya adalah diciptakan dari seorang, dan Allah meniupkan rohnya pada Adam, yang dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an diidentikkan dengan manusia asal jenis manusia, Islam tidak menyatakan, bahwa manusia itu seragam dalam segala segi aspeknya. Tetapi Al-Qur’an menekankan bahwa perbedaan bahasa dan cara hidup dalamberbagai bangsa atau kelompok ummat manusia adalah merupakan tanda-tanda kekuasaan Tuhan.
             Dalam hal itu pula ditekankan, bahwa dalam asasnya ummat manusia seluruhnya adalah satu dan oleh karenanya semua bangsa dan kelompok ummat manusia hendaknya berusaha untuk mencari persetujuan dalam berbagai soal-soal asasi ; dan bahwa soal asasi yang paling esensi adalah kepercayaan bahwa Tuhan adalah Esa dan bahwa semua manusia adalah hanya satu keluarga. Dan sebagian daripada tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan perbedaan bahasa kamu dan warna kamu ; sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui;.(Ar-Rum: 23). Adalah manusia itu satu ummat yang tunggal;.(Al-Baqarah:213). Persaudaraan dan persatuan seantero ummat manusia adalah hanya merupakan akibat yang langsung dari kepercayaan tentang ke-Esaan Tuhan.
           
             Demikian pula kesatuan moral adalah juga merupakan akibat yang langsung daripada kepercayaan tentang ke-Esaan Tuhan. Sekalipun bangsa-bangsa dan kelomopok-kelompok ummat manusia berbeda dalam adat kebiasaan dan tatacara hidupnya, namun seharusnya ada satu ukuran moralitas yang obyektif bagi mereka semua itu. Ukuran moral yang dualistic, satu utnuk bangsa atau golongannya sendiri dan yang lainnya untuk bangsa dan golongan bangsa yang lain, seharusnya tidak bisa kita tolerir. Nietzsche membedakan tentang ukuran moral bagi bangsa tuan dan ukuran moral bagi bangsa budak, sebagaimana sementara orang membedakan antara kode moral bagi lelaki dan kode moral bagi wanita. Islam menekankan bahwa manusia seluruhnya adalah satu, kode moralnya pun harus satu pula. Dalam ayat-ayat A-Qur’an berhubungan dengan moral maka Allah dalam firman-Nya selalu membarengkan antara lelaki dan wanita dan hanya dalam ajaranajaran moral yang bukan esensi maka ayat-ayat Al-Qur’an mempunyai anjuran-anjuran yang khusus untuk lelaki dan anjuran yang khusus untuk wanita. Jadi kesatuan hukum morak adalah akibat yang langsung daripada kesatuan ummat manusia adalah akibat langsung daripada ke-Esaan Tuhan.
               Dalam deretan sifat-sifat Tuhan maka sifat ke-Esaan Tuhan inilah yang paling ditekankan dalam Al-Qur’an. Sifat inilah kalau dibandingkan dengan sifat-sifat Tuhan yang paling mudah dipahami. C. Keesaan Tuhan sebagai Problem Theologi Karena tidak demikian mudahnya memahami soal-soal yang berhubungan dengan Ketuhanan, maka timbullah berbagai macam aliran pikiran dalam theology. Dalam islam juga ada aliran-aliran theology, demikianjuga dalam agama Kristen . diantaranya sebab-sebab yang pokok ialah karenaTuhan tak terbatas itu tidak dapat dipahami oleh akal yang terbatas dan kerana Tuhan Yang Mutlak itu tak dapat dipahami oleh sesuatu yang relative (nisbi). Untuk mengetahui dunia secara kwalitatif dan kwantitatif orang dilengkapi dengan organisme dengan indera-indera yang khusus yang dengan itu dapat mencapai tujuan-tujuan yang sifatnya biologis.
             Akalpun berurat berakar pada indera kerja, kerja akal itu hanya merupakan eksistensi daripada indera. Akal orang adalah merupakan alat perjuangannya untuk eksistensinya dan adaptasi terhadap keadaan sekitarnya. Indera-indera dan akal adalah terbatas dan nisbi ini menggarap soal-soal yang terbatas dan nisbi pula.
            Manusia sekalipun telah mencapai tingkatan science yang amat tinggi dan berfikir secara logis, namun ia tidak dapat dengan sebenar-benarnya memahami tentang kodrat (nature) daripada atom, juga tidak bisa memahami dengan sebenar-benarnya tentang tumbuhnya sehelai daun rumput. Oleh karena itu adalah tidak sepatutnya bahwa manusia mempunyai prestensi dapat mengetahui sifat-sifat daripada sumber yang terakhir daripada semua yang hidup dan semua eksistensi ini. Ini adalah kesulitanyang pertama. Lalu masalah ada lagi kesulitan dalam memahami Ketuhanan itu.Bahasa yang dipakai orang adalah bahasa inderawi. Tiap-tiap kata dalam bahasa orang adalah berhubungan dengan indera.
            Bagaimanakah bisa sifat-sifat Tuhan dapat digambarkan dalam bahasa manusia, Tuhan yang tidak berada dalam waktu dan tempat juga tidak bisa menjadi obyek daripada indera kita. Bagi manusia nilai-nilai dan pemikiran-pemikiran yang paling tinggi adalah terbatas pada kodrat daripada pikiran dan badan wadak kita. Bagaimana kita dapat mencapai apa yang ada di luar kodrat kemanusiaan kita dan hubungannya dengan kehidupan dan apa yang ada ini: Apakah kita ini akan menghancurkan agam yang benar dan menyebabkan orang terperosok ke dalam salah satu daripada nihilisme moral dan intektual atau menurunkan idea tentang Tuhan dengan menjadikan Dia seorang Tuhan yang dapat diketahui, Tuhan yang tentu lebih rendah daripada orang yang mengetahui, karena sesuatu yang diketahui itu tentu dapat diliputi dan dikuasai oleh yang mengetahui. Oleh karena itu agam tidak bisa didasarkan kepada ketidak pengetahuan sama sekali tentang Tuhan dan tidak bisa didasarkan kepada pengetahuan yang sempurna tentang Tuhan. Juga pengetahuan tentang Tuhan tidak dapat dicapai oleh akal manusia. Tuhan tidak dapat secara logika diformulirkan, juga tidak bisa dipahami secara psikologis.
             Tiap usaha untuk memahami Tuhan oleh akal selalu berakhir dengan peniadaan terhadap Tuhan.Spinoza menyatakan bahwa tiap definisi adalah merupakan pembatasan pengetahuan, sebagaimana kita mengetahui, adalah hubungan subyektif. Maka bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu yang bukan subyek, bukan obyek, juga bukan sesuatu yang merupakan hubungan obyek dan subyek. Ibn Chaldun menyatakan bahwa aksi adalah merupakan sesuatu timbangan yang tepat dan catatan-catatannya adalah pasti dan dapat dipercaya. Tetapi mempergunakan akal untuk menimbang soal-soal yang berhubungan dengan ke-esaan Tuhan, atau hidup setelah mati, atau hakekat wahyu atau sifat-sifat Tuhan, atau soal-soal lain seperti itu yang berada di luar jangkauan akal, adalah seperti mencoba mempergunakan timbangan tukang emas untuk menimbang gunung.
            Ini tidak berarti bahwa timbangan itu yang tidak tepat. Al-Qur’an menyatakan:;sedang mereka tidak meliputi Allah dengan pengetahuan mereka;. (Thaha: 110). Selain daripada itu, dalam kesadaran beragama selalu terdapat garis pemisah antara yang disembah dengan orang yang menyembah. Kesadaran bahwa yang disembah itu adalah Maha Kuasa lagi Maha Suci danyangmenyembah adalah lemah lagi berdosa. Ini seringkali menimbketegangan batin, danketegangan batin itu terdapat pada semua agama. Semua agama menekankan tentang lainnya Tuhan daripada apa yang bukan Tuhan. Tetapi dalam waktu yang sama orang yang menyambah sadar tentang dekatnya Tuhan kepadanya, orang menyembah tidak mungkin memisahkan idea tentang Tuhan daripada pengalaman keagamaannya sendiri.                       
          Tetapi kalau kita dapat memahami bahwa sifat-sifat Tuhan, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dengan istilah-istilah manusia itu sebagai symbol dan mengetahui bahwa indera dan akal manusia adalah terbatas dan nisbi, maka bahaya akan jatuh dalam anthropomorphisme dan anthropopathisme dapat dihindarkan. Kalau kitab suci agama masing-masing adalah merupakan sumber yang paling autentik untuk memahami ajaran agama masing-masing tentang Ketuhanannya, maka karena jelasnya Al-Qur’an dalam menerangkan tentang konsepsi Ketuhanannya, maka inilah sebabnya dalam sejarah Theologi islam tidaklah terdapat bermacam-macam aliran yang sangat berbeda satu sama lain, sebagaimana terdapat dalam agama-agamalain.

Kesimpulan

Setelah penulis menguraikan secara singkat tentang masalah ke-Esaan Tuhan menurut Al-Qur’an, maka dapatlah diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut: 1. Pengertian ke-EsaanTuhan,menurut Al-Qur’an adalah telah jelas dan tegas,bahwa Tuhanitu adalah Esa/ahad sebagaimana dinyatakan Al-Qur’an dalam Surat Al-ikhlas. Penegasan tentang hal ini menunjukkan bahwa islamlah agama yang benar-benar menganut faham monotheisme yang murni. Dan hal inilah kiranya yang merupakan cirri khusus Islam yang tidak akan ter pengaruh karena perubahan zaman atau tempat. 2. Pengertian ke-Esaan Tuhan, menurut agama-agama selain islam, dapat dikataka pengakuan Esa, tetapi tidak murni. Hal ini karena masih mengakui Ilah-ilah (Tuhan-tuhan) yang lain. Sehingga tidak monotheistic lagi, bahkan lebih tepat dikatakan menganut paham Polytheime. 3. Bahwa ke- Esaan Tuhan menurut Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang dogmatis dan irasionil, tetapi bahkan sesuatu pengertian yang rasional yang masuk dab dapat dimengerti oleh akal pemikiran yang sehat, karena Tuhan itu maha Kuasa, Maha Sempurna, maka secara otomatis Dia harus Esa/Tinggal, sebab jika lebih dari satu, maka tentunya tidak Esa lagi
E.  BUTIR-BUTIR PANCASILA SILA PERTAMA
Ø  Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ø  Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
Ø  Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antra pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
 Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Ø  Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing
Ø  Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

F. MAKNA SILA KE TUHANAN YANG MAHA ESA
    1.Tidak Memaksakan Suatu Agama & Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Kapada Oranglain.
           Bangsa Indonesia dalam melaksanakan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa memiliki landasan yang dapat menjamin kehidupan beragama, diantaranya adalahsebagai berikut:
Pancasila, dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan didasari oleh sila-sila lainnya.
          Pembukaan UUD 1945: pada alenea ke tiga: Atas berkat rahmat Allah yang Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhurAlenea ke empat: Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada ketuhanan yang maha esa.
        Ketetapan MPR No IV/MPR/1999 tentang GBHN Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHNDalam ketetapan tersebut dicantumkan bahwa salah satu arah kebijakan bidang agama adalah meningkatkan dan memantapkan kerukunan hidup antar umat  beragama sehingga tercipta suasana kehidupan yang harmonis dan saling menghormati dalam semangat kemajemukan melalui dialog antar umat beragama dan pelaksanaan pendidikan agama secara deskriptif yang tidak dogmatis untuk .tingkat perguruan tinggi.
Dari beberapa uraian di atas kita dapat menyimpulkan pelaksanaan Ibadah Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah :
v  Negara kita adalah negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
v  .Negara memberikan jaminan kebebasan kepada warga negara untuk memeluk salah satu agama atau kepercayaan sesuai dengan keyakinan masing-masing.
v  Kita tidak boleh memaksakan seseorang untuk memeluk agama kita atau memaksa  seseorang pindah dari satu agama ke agama yang lain.
v  Dalam hal ibadah negara memberikan jaminan seluas-luasnya kepada semua umat   beragama dan penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa untuk.melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing
v  Setiap warga negara Indonesia harus percaya dan beriman kepada Tuhan Yang Maha  Esa. Kemudian
Pengertian  Ibadah adalah perbuatan menghambakan diri kepada Tuhan Yang.Maha Esa yang didasari kekuatan mengerjakan perintahnya dan menjauhi larangannya.
          Agama adalah ajaran, terutama didasarkan antara hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, dengan sesama dan dengan alam sekitarnya berdasarkan suatu kitab.suci. Jadi
         pengertian Ibadah tidak hanya melakukan kewajiban kepada Tuhan, tetapi juga kepada sesama manusia dan alam sekitarnya. Setiap agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengajarkan kepada  pemeluk dan penganutnya, tentang perintah perintah dan larangan larangan Tuihan bagaimana harus bersikap dan bertindak dalam hubungannya dengan Tuhan maupun.dalam hubungannya dengan sesama manusia dan alam sekitarnya.
2.Manusia Indonesia percaya & takwa Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai ajaran Agama & Kepercayaanya Masing – Masing Menurut Dasar Kemanusiaan yang  adil dan berdadab.
         Kebebasan memeluk agama adalah salah satu hak yang paling asasi diantara hak-hak  asasi manusia, sebab kebebasan agama itu langsung bersumberkan kepadamartabat manusia sebagai mahluk Tuhan.Manusia selain merupakan mahluk ciptaan Tuhan juga merupakan mahluk sosial,yang berarti bahwa manusia memerlukan pergaulan dengan manusia lainnya. berarti ba manusia memerlukan pergaulan dengan manusia lainnya. Setiap manusiaSetiap manusia  perlu bersosialisasi dengan anggota masyarakat lainnya. perlu bersosialisasi dengan anggota masyarakat lainnya.Bangsa Indonesia yang beraneka agama, menjalankan ibadahnya masing-masingBangsa Indonesia yang beraneka agama, menjalankan ibadahnya masing-masingdimana pemeluk melaksanakan ajaranNya sesuai dengan norma agamanya.dimana pemeluk melaksanakan ajaranNya sesuai dengan norma agamanya.Agar tidak terjadi pertentangan antara pemeluk agama yang berbeda, makaAgar tidak terjadi pertentangan antara pemeluk agama yang berbeda, maka hendaknyahendaknyadikembangkan sikap toleransi beragama, yaitu sikap hormat menghormati sesamadikembangkan sikap toleransi beragama, yaitu sikap hormat menghormati sesama pemeluk agama yang berbeda, sikap menghormati kebebasan menjalankan ibadah pemeluk agama yang berbeda, sikap menghormati kebebasan sesuai ajaran agama masing-masing, dan tidak boleh memaksakan suatu agamakepada orang lain.

       Tolenransi beragama tidak berarti bahwa ajaran agama yangsatu bercampur Dari beberapa uraian di atas kita dapat menyimpulkan pelaksanaan Ibadah Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Y
ang Maha Esa antara lain:
1.      Negara kita adalah negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
2.      Negara memberikan jaminan kebebasan kepada warga negara untuk memeluk salahsatu agama atau kepercayaan sesuai dengan keyakinan masing-masing.
3.      Kita tidak boleh memaksakan seseorang untuk memeluk agama kita atau memaksaseseorang pindah dari satu agama ke agama yang lain

BAB IV
RUMUSAN MASALAH
Kontroversi Pancasila Ditinjau Dari Sila Ketuhanan Yang Maha Esa :

         Sebagai dasar negara RI, Pancasila juga bukanlah perahan murni dari nilai-ni-lai yang berkembang di masyarakat Indonesia. Karena ternyata, sila-sila dalam Pan-casila, sama persis dengan asas Zionisme dan Freemasonry. Seperti Monoteisme (Ke-tuhanan YME), Nasionalisme (Kebangsaan), Humanisme (Kemanusiaan yang adil dan beradab), Demokrasi (Musyawarah), dan Sosialisme (Keadilan Sosial). Tegas-nya, Bung Karno, Yamin, dan Soepomo mengadopsi (baca: memaksakan) asas Zionis dan Freemasonry untuk diterapkan di Indonesia.
       Selain alasan di atas, agama-agama yang berlaku di Indonesia tidak hanya Is-lam, tetapi ada Kristen Protestan dan Katolik, Hindu, Budha, bahkan Konghucu. Ke-semua agama itu, menganut paham atau konsep bertuhan banyak, bahkan pengikut a-nimisme. Hanya agama Islam saja yang memiliki konsep Berketuhanan Yang Maha Esa (Allahu Ahad).
          Sejak awal, Pancasila agaknya tidak dimaksudkan sebagai alat pemersatu, a-palagi untuk mengakomodir ke-Bhinekaan yang menjadi ciri bangsa Indonesia. Te-tapi untuk menjegal peluang berlakunya Syari’at Islam. Para nasionalis sekuler, ter-utama Non Muslim, hingga kini menjadikan Pancasila sebagai senjata ampuh untuk menjegal Syariat Islam, meski konsep Ketuhanan yang terdapat dalam Pancasila ber-beda dengan konsep bertuhan banyak yang mereka anut. Mereka lebih sibuk menye-rimpung orang Islam yang mau menjalankan Syariat agamanya, ketimbang dengan gigih memperjuangkan haknya dalam menjalankan ibadah dan menerapkan ketentuan agamanya.
Bagaimana toleransi bisa dibangun di atas konstruksi filsafat yang meng-hasilkan anarkisme ideologi seperti ini?
               Dalam memperingati hari lahir Pancasila, 4 Juni 2006, di Bandung, muncul sejumlah tokoh nasional berupaya memperalat isu Pancasila untuk kepentingan zio-nisme. Celakanya, mereka menggunakan cara yang tidak cerdas dan manipulatif. De-ngan berlandaskan asas Bhineka Tunggal Ika, mereka memosisikan agama seolah-olah perampas hak dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Segala hal yang berkaitan dengan agama dianggap membelenggu kebebasan. Kebencian pada agama, pada gi-lirannya, menyebabkan parameter kebenaran porak-poranda, kemungkaran akhlak merajalela. Kesyirikan, aliran sesat, dan perilaku menyesatkan membawa epidemi kerusakan dan juga bencana.
              Anehnya, peristiwa bencana gempa bumi yang menewaskan lebih dari 6000 jiwa di Jogjakata, 27 Mei 2006, malah yang disalahkan Islam dan umat Islam. Seo-rang paranormal mengatakan,”Bencana gempa di Jogjakarta, terjadi akibat pendu-kung RUU APP yang kian anarkis.” Lalu, pembakaran kantor Bupati Tuban, cap jempol atau silang darah di Jatim, yang dilakukan anggota PKB dan PDIP, dan meny-atroni aktivis FPI, Majelis Mujahidin, dan Hizbut Tahrir. Apakah bukan tindakan a-narkis? Jangan lupa, Bupati Bantul, Idham Samawi, yang daerahnya paling banyak korban gempa bumi berasal dari PDIP.
Tidak itu saja. Upaya penyeragaman budaya, maupun moral atas nama agama, juga dikritik pedas.   
            “Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan awal bangsa Indonesia harus dipertahankan. Masyarakat Indonesia beraneka ragam, sehingga tindakan menyeragamkan budaya itu tidak dibenarkan,” kata Megawati. Penyeragaman yang dimaksud, sebagaimana dikatakan Akbar Tanjung,”Keberagaman itu tidak dirusak dengan memaksakan kehendak. Pihak yang merongrong Bhineka, adalah kekuatan-kekuatan yang ingin menyeragamkan.”
             Padahal, justru Bung Karno pula orang pertama yang mengkhianati Pancasila. Dengan memaksakan kehendak, ia berusaha menyeragamkan ideologi, budaya, dan seni. Ideologi NASAKOM (Nasionalisme, agama, dan komunis) dipaksakan berlaku secara despotis. Demikian pula, seni yang boleh dipertunjukkan hanya seni gaya Le-kra. Sementara yang berjiwa keagamaan dinyatakan sebagai musuh revolusi. Begitu pun Soeharto, berusaha menyeragamkan ideologi melalui asas tunggal Pancasila. Hasilnya, kehancuran.
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
KESIMPULAN
Berdasarkan latar belakang, pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pancasila adalah ideologi yang sangat baik untuk diterapkan di negara Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama, suku, ras dan bahasa. Sehingga jika ideologi Pancasila diganti oleh ideologi yang berlatar belakang agama, akan terjadi ketidaknyamanan bagi rakyat yang memeluk agama di luar agama yang dijadikan ideologi negara tersebut.
Dengan mempertahankan ideologi Pancasila sebagai dasar negara, jika melaksanakannya dengan baik, maka perwujudan untuk menuju negara yang aman dan sejahtera pasti akan terwujud.
IMPLIKASI
Untuk semakin memperkokoh rasa bangga terhadap Pancasila, maka perlu adanya peningkatan pengamalan butir-butir Pancasila khususnya sila ke-1. Salah satunya dengan saling menghargai antar umat beragama.
Untuk menjadi sebuah negara Pancasila yang nyaman bagi rakyatnya, diperlukan adanya jaminan keamanan dan kesejahteraan setiap masyarakat yang ada di dalamnya. Khususnya jaminan keamanan dalam melaksanakan kegiatan beribadah.
SARAN
Untuk mengembangkan nilai-nilai Pancasila dan memadukannya dengan agama, diperlukan usaha yang cukup keras. Salah satunya kita harus memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Selain itu, kita juga harus mempunyai kemauan yang keras guna mewujudkan negara Indonesia yang aman, makmur dan nyaman bagi setiap orang yang berada di dalamnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar